Kamis, 31 Desember 2015

Catatan Akhir Tahun [365 of 365]

Diposting oleh dita amalia di 08.51 0 komentar
Bukan tentang malam yang semakin larut.
Gelap yang semakin tua.
Atau, pesta kembang api dimana-mana.

Rasanya baru kemarin, saat aku mendengar suaramu lewat telepon. Berbincang ini-itu sampai kita lupa waktu. 
Rasanya baru kemarin, Kamu meminta aku untuk tinggal. Lari bersama, cerita panjang lebar meskipun terkadang aku jenuh akan topik yang dibahas. Movie marathon meskipun banyak gangguan. Dan berlomba untuk bangun dan mengirim pesan selamat pagi lebih dulu. Tapi kebiasaan itu tak bertahan lama.  I've tried to understand you. Hingga Aku harus berusaha mengimbangi kesibukanmu dengan ikut-ikutan menyibukkan diri. Sampai akhirnya kita lost contact. Dan, ya. Sometimes I wanna called you, but why don't you call me first? And make a deal that we gonna be alright? I know you won't.
Iya. Semua itu memang kemarin. Tahun lalu. Dan kini, semua itu hanya kenangan yang menguap di udara. You change to be a sucks stupid asshole, Man.

Aku ingin benar-benar pergi darimu. Melenyapkanmu bersama Asap jagung bakar di malam pergantian tahun. Aku cuma ingin  kamu tahu, kamu pernah jadi bagian berharga. Kamu Pernah jadi The Apple of My Eye. Juga jadi The right shoe. Kamu pernah jadi The funny guy who make me falling in love without knowing why. Dan aku tidak pernah kehabisan kata-kata untuk menuliskanmu. Juga menuliskan tentang dia yang pernah kujuluki cemara. The evergreen who always green--Udah berapa tahun ya, jadi secret admirer nya dia? Atau Dia yang pernah jadi sebuah kebetulan yang selalu aku semogakan. Haha. Mereka yang pernah mampir menjadi The awkward in my life. Dan mereka yang mengendap bersama draft draft tulisan lama yang belum lagi kujamah. 

Kini kita sudah punya jalan masing-masing. Kamu dengan embel-embel tugas yang tidak ingin kumengerti. Aku sendiri akan banting setir dari jurusan yang kuambil. Aku ingin meraih mimpiku yang lain. Doakan saja semoga tuhan merestui. Dan malaikat mengamini segala doa.
Sampai di tutup buku tahun 2015, Aku mengenang kalian sebagai teman baik, di tahun yang baik pula.
Cukup ya. 





Happy New year 2016!
Auf Wiedersehen 2015, Danke! :)

Senin, 21 Desember 2015

Hati ingin kembali, Tapi otak ingin pergi

Diposting oleh dita amalia di 21.48 0 komentar

Kemarin kemarin, aku ingin mengambil cuti barang beberapa bulan untuk memikirkanmu.
Sudah kuputuskan dan aku gagal.
Ketika kamu menatapku, atau memanggil namaku, rasa itu menggertak lagi. Rasa itu kembali menelusup. Tumpah ruah dan aku tidak bisa menahan syaraf di otak untuk berhenti memikirkanmu.

Ketika otak berfikir: "Terlalu bodoh jika masih bersama." Hati masih enggan melepas. "Tahan... redakan ego. kamu harus bisa belajar memahami Dia." Kuturuti kata hati.
Mitosnya, perempuan lebih dominan menggunakan hati untuk mengambil keputusan ketimbang memakai otak. Beda dengan lelaki. Beda dengan Kamu. Kamu lebih mengikuti kata otak daripada hati.

Namun suatu hari, hatiku telah berkata "Cukup". Otak ku berkata lain. Ia masih menyimpan segala memori tentang kamu. Matamu, suaramu, gerak-gerikmu, kebiasanmu. Aku hafal betul. Dan Aku sulit untuk menolak lupa.

Hatiku ingin memintamu kembali, tapi otak ku berkata lain.
"Jangan!" Katanya. "Masih ada hal lain yang lebih penting dari Dia. Lagipula belum tentu Dia memikirkanmu, kan? Percuma! Capek kan diabaikan? Capek kan, berjuang sendirian? Hah! Belum tentu kamu yang menjadi satu-satunya!"

Dan sebagai perempuan yang terlalu banyak menggunakan hati (Sampai-sampai keseringan makan ati),  kali ini, Aku harus belajar memihak pada otak. Entah yang akhirnya terjadi, Aku, atau kamu yang membunuh ego.
Yang jelas ntuk kali ini Aku tidak peduli lagi.

Bhak!
Persetan dengan otak maupun hati.
Aku pamit undur diri.


***

 

Chocodit Escape Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos