Minggu, 16 Maret 2014

:)

Diposting oleh dita amalia di 07.54 0 komentar
alisnya bertaut tebal seperti rendengan ulat bulu
Bibirnya setipis diameter mulut ikan koi
Hidungnya setajam pensil faber castle yang baru saja kuraut tadii malam

aku pengen ngeliat ke belakang. Tapi aku takut.
Semangat ya, latihanny
:)

Kamis, 13 Maret 2014

aku butuh teman

Diposting oleh dita amalia di 08.22 4 komentar
aku butuh teman yang klop

Yang bisa diajak kompromi
yang ketika bareng dia aku bisa jadi diriku sendiri
Yang bisa saling ngerti satu sama lain
Yang selalu ada buatku
Yang bisa diajak gila
Yang kemana-mana selalu barengan (tanpa ditinggal)
Yang like a twin. serupa tapi tak sama
Yang ga masalah menghabiskan waktu dengan ngobrol semalam suntuk
Yang solider. ga egois
Yang ga mengabaikan ketika aku ingin cerita
Yang mendengarkan ketika aku bicara
Yang sudi kutemani waktu dia nggak butuh siapa-siapa
Yang rela berbagi denganku
Yang memiliki beberapa kesukaan yang sama denganku
Yang memaklumi waktu aku menggilai sesuatu
Yang bisa menghargai dan saling peduli
Yang mendukung
Yang mengingatkan kalau aku salah
Yang menghargai pendapatku
Yang melengkapi
Yang ketika ada dia, aku ga butuh siapa-siapa lagi
Yang menepati janji
Yang ga pernah bohong ; sekecil apapun kebenarannya, dia tetep bicara jujur
Yang rela bahunya kujadikan sandaran ketika aku merana
Yang sederhana ; tak perlu cantik, tak perlu kaya, tak perlu populer--toh aku juga nggak seperti itu. yang penting dia selalu ada buatku
Yang nyaman. Yang ketika barengan, kita sama-sama ga ngerasa canggung lagi
Yang ga perlu saling iri dan menjatuhkan kelebihan dan kekurangan masing-masing
Yang bukan pengkhianat
Yang....  masih banyak lagi. itu semua masih sebagian kecil

aku kesepian. aku butuh teman. ucap seorang gadis. Tapi, tak ada seseorang seperti yang kita inginkan.  aku tau


aku ingin berteman dengan
seseorang yg bisa ku direct
sesorang seperti yang aku mau.
Sekeras apapun aku mencari tak akan ada orang seperti aku.
Kenapa?
Karena yang aku mau
cuma seseorang seperti
aku.



Karna aku butuh seseorang.
aku lupa rasanya saling menyayangi

Rabu, 01 Januari 2014

sebuah kartu natal

Diposting oleh dita amalia di 07.29 0 komentar

   

Sekeping amplop berwarna hijau tua itu kubuka. Terlihat sebuah kartu ucapan. Di depannya terpampang gambar sebuah rumah yang cukup besar. lengkap dengan pohon tinggi tanpa dedaunan. Serta pohon-pohon cemara yang berdiri kokoh dan sangat hijau. Tampak salju-salju menggumpal di sepanjang jalan. Tampak juga yang turun dari langit berbentuk butiran-butiran putih halus beraturan. Terasa sangat dingin mengigit. Dari luar,tampak rumah besar tersebut memancarkan cahaya lampu yang terang benderang. Dan terasa hangat di dalam--aku mencoba menerawang. Di seberang jalan tampak sebuah kereta kuda lengkap dengan penumpang. Di dalamnya terdapat seorang bocah lelaki dan seorang lelaki paruh baya yang masing-masing menggunakan mantel tebal lengkap dengan kupluk dan sarung tangan, sedang menuju rumah besar yang kuceritakan tadi.

Gambar yang sangat menunjukkan nuansa natal. benar saja. Ketika kubuka kartu ucapan itu tertulis :

"Wishing you all things bright and beautiful this christmas season. 
Merry Christmas"


Bukan. jangan menyangka aku yang tidak tidak. Aku bukan seorang nasrani yang baru saja mendapatkan christmas card dari seseorang yang juga nasrani. Aku membeli kartu natal ini di sebuah toko buku favoritku. Aku menyukainya. Si kasir pun heran ketika seorang perempuan berjilbab menyerahkan 2 komik dan beberapa christmas card untuk dibayar.

"Ga salah mba?" Si kasir menatapku dengan wajah keheranan
"Kenapa?" tanyaku tak kalah heran
"Ini" serunya sambil menunjuk kartu-kartu natal yang kutaruh di meja kasir
"Oooooh... enggak" Aku cuma tersenyum. Loh memangnya kenapa dengan kartu-kartu ini?



Bukan apa apa. Kartu itu bukan untuk dikirim pada seseorang yang merayakannya. Bukan. Aku hanya menyukai... suasana dalam kartu itu.


memang sederhana dan terlihat biasa


terasa lengkap bila disandingkan dengan bola kaca milikku


Jumat, 22 November 2013

13 november 2013

Diposting oleh dita amalia di 06.19 1 komentar
     Hari itu, bermili liter air dalam tampungan awan-awan tumpah ruah. Ia menjatuhkan segelintir air hujan. Angin pun berkoar berkelebat tak mau kalah. Lamat laun air-air hujan itu semakin ganas jatuh ke tanah. Disapu angin-angin nakal yang membawa hawa dingin menusuk kulit lalu merembes sampai ke tulang. Lengkap.
     Seorang ibu di pinggir jalan memberhentikan laju kendaraan yang kutumpangi. Ia mendekat, lalu berkata       "Saya cuma punya uang 2000, boleh ikut menumpang?" seruya dengan suara sedikit parau.
     "Ya. Naik." si supir berbaik hati. mungkin ia tak tega melihat perempuan berdiri kedinginan ditengah derasnya hujan.
     Lalu perempuan itu berjalan dengan ragu. lalu naik kendaraan yang juga kutumpangi dengan tertatih. dengan si kecil di gendongan dan si sulung di gandengan. Ia tampak muram. durja sepertinya; wajahnya hampir menangis. si kecil menggigil. bibirnya nyaris membiru. sang ibu mendekapnya lebih rapat lagi. si kecil lalu bergelung, berkemul dalam jarit tipis batik coklat tua. si sulung juga basah kuyup. ia memegang lengan sang ibu dengan kuat. Sang ibu hanya bisa merenung. sambil merengkuh kedua putrinya, berharap akan ada kehangatan yang bisa meredakan rasa dingin diantara keduanya. mata hitamnya berkilat berkaca-kaca. mungkin batinnya sudah menangis. namun hanya kilatan tipis yang tergambar di sudut matanya. Tapi, tak ada yang tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. kecuali dingin. dingin. dingin. "Mama, aku kedinginan" Seru si Sulung.
     Kualihkan pandangan, tak kuasa aku melihat. kendaraan yang kutumpangi terus melaju. saatnya aku untuk turun. lalu aku beranjak, sambil melihat pemandangan penuh iba itu sekali lagi.













13 November 2013

Senin, 04 November 2013

evergreen

Diposting oleh dita amalia di 05.48 0 komentar
hai evergreen, or holla cemara yang hijau sepanjang tahun, tadi kita bertemu lagi loh tanpa disengaja. awalnya emang ada sedikit harepan pas aku lewat tadi.ceilaaaa. tapi pas tiba-tiba aku hopeless banget, ada kamu tiba-tiba lewat, deg! kita ketemu dan saling tatap loh tadi, haha mukamu LOL banget. matamu melotot ih serem sekali wkwk. lama ga ketemu gara2 kita ga satu sekolah lagi, rambutmu makin gondrong ya sekarang. tapi tetep kece ko ka! :)



buat kau, cemara. tetep jadi cemara yang hijau sepanjang tahun ya! yg tetep hijau meskipun bermandikan salju. yg tetep kokoh, tinggi menjulang dalam situasi apapun. dan....gausah jaim plus so dingin gitu kali :p hehe





dari: orang yg selalu kagum akan sebongkah cemara
4 november 2013

Selasa, 22 Oktober 2013

Rindu yang terbayar

Diposting oleh dita amalia di 06.01 5 komentar

Aku menjumpaimu. masih sama seperti ketika kita saling mengucap selamat tinggal dulu. seperti ada jarak yang membentang di kedua benak masing-masing. kau bilang kau rindu. begitupula aku. lama sekali kita tak bersua. berapa lama? setahun?dua tahun?empat tahun?atau sewindu? kau mulai mengingat.

kita berjumpa lagi. Di sudut dimensi yang masih sama, kau masih mengingatku. begitupula aku. kita saling menatap tanpa bicara. bergumam tanpa suara. terbesit kenangan. Ada kejutan. Ada debaran. Ada rindu yang terbayar.

seperti menjumpa pisah
seperti memisah temu
seperti pergi untuk pulang
dan berpulang atas kepergian
seperti aku. begitupun kamu

kita tak pernah benar-benar terpisah. kita tak pernah benar-benar mengalami perpisahan. Dunia terlalu sempit untuk menempatkan dua manusia di jarak yang berjauhan. Toh pada akhirnya kita bersua kembali. Dunia terlalu sempit bukan?
kau mengiyakan. aku mengangguk pasti. kita berjalan beriringan menuntas sepi. merekat tali yang sempat terputus--sebuah kisah yang pupus. kau menatap lekat-lekat, seraya berkata, 
"bisakah kita kembali, nona?"



                                         

Selasa, 15 Oktober 2013

saat-saat beranjak dewasa

Diposting oleh dita amalia di 05.59 2 komentar
saat-saat beranjak dewasa mungin seperti ini, ketika kita mulai mengenal suatu perasaan yang sulit dijabarkan. Ketika kita mulai merasa terusik ketika ada sosok itu lewat di pandangan mata

saat-saat beranjak dewasa mungkin seperti ini, ketika kita mulai  dituntut untuk berfikir lebih luas, belajar lebih giat, dan mulai menata masa depan, menentukan pilihan, dan meraih apa yang kita inginkan

saat-saat beranjak dewasa mungkin ketika kita berfikir untuk apa kita hidup. mengapa kita hidup. dan apa tujuan kita hidup. menurutku itu terlalu rumit

saat-saat beranjak dewasa mungkin ketika kita harus bisa membina kepercayaan, bisa berkomitmen. menghargai orang lain, mengalahkan ego, dan teguh pada pendirian.

untuk menjadi dewasa mungkin kita harus punya pemikiran yang matang. menerima semua konsekuensi di setiap pilihan yang kita pilih. planning yang kuat untuk bisa memperkirakan apa-apa yang kita butuhkan untuk menunjang kehidupan.

dan menurutku, dewasa itu sebuah pilihan..















aku belum siap menjadi dewasa...
 

Chocodit Escape Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos